Indonesia, Australia, dan Timor Leste Perkuat Kerja Sama Perbatasan

TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia, Australia, dan telah meneguhkan komitmen untuk memperkuat kerja sama dan pertukaran intelijen guna mencegah terjadinya kejahatan transnasional di wilayah perbatasan. Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara Kepolisian Republik Indonesia, Kepolisian Federal Australia, dan Kepolisian Nasional Timor Leste yang berlangsung baru-baru ini.

Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Nusa Tenggara Timur, Komisaris Senior Henry Novika Chandra, mengungkapkan bahwa sinergi antara pihak kepolisian Indonesia, Australia, dan Timor Leste perlu ditingkatkan melalui komunikasi yang intensif dan pertukaran informasi yang cepat untuk mendeteksi dan menangani ancaman secara efektif. “Kami harus berkolaborasi dalam merespons ancaman tersebut,” ujarnya pada Selasa, 4 Agustus.

Dalam pertemuan tersebut, ketiga kekuatan polisi sepakat untuk memperkuat sistem respons bersama dalam memberantas kejahatan transnasional dan menjaga stabilitas di perbatasan Indonesia-Timor Leste serta jalur ke Australia. Para delegasi dari ketiga negara juga sepakat bahwa kejahatan lintas batas memerlukan pengelolaan yang terkoordinasi di kawasan tersebut, termasuk perdagangan manusia, penyelundupan, pencurian ternak dan kendaraan, serta pelanggaran perbatasan ilegal.

Pejabat dari Divisi Hubungan Internasional Kepolisian Indonesia, Komisaris Senior Juara Silalahi, menegaskan pentingnya respons bersama untuk menghadapi ancaman kejahatan lintas negara secara optimal. Langkah-langkah ini sangat penting mengingat posisi perbatasan Indonesia-Timor Leste yang strategis dekat dengan Australia, dan ia berharap adanya media pertukaran intelijen antara ketiga negara.

“Pertemuan trilateral ini mencerminkan komitmen kami untuk tidak bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman yang tidak mengenal batas,” ujar Silalahi. Sementara itu, Agen Federal AFP Sarah Hammond menyatakan bahwa Indonesia, Timor Leste, dan Australia berbagi tantangan keamanan akibat kedekatan geografis mereka. “Sindikat kriminal sering menggunakan jalur laut dan darat sebagai rute transit. Ancaman semacam ini tidak dapat dikelola oleh satu negara saja, sehingga pertukaran informasi dan kerja sama trilateral sangat penting,” tambah Hammond.

AFP berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan rekan-rekan mereka di Indonesia dan Timor Leste untuk mencegah, terutama, perdagangan manusia serta penyelundupan narkoba dan bahan kimia ilegal di kawasan tersebut. Selain itu, Kepala Superintenden Calisto Gonzaga dari Unit Polisi Perbatasan PNTL mengusulkan bahwa pertukaran intelijen terhadap kejahatan transnasional harus diikuti dengan patroli dan operasi bersama serta kerja sama dalam peningkatan kapasitas personel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *